Terik matahari kota Jakarta, terasa mereda ketika tubuhku menyentuh ambang rumah tua, rumah kontrakan dengan kategori dibawah kelas “sangat sederhana” yang terdiri dari 1 kamar tidur, 1 ruang serba guna (sebagai ruang masak, ruang makan, ruang belajar, ruang istirahat dan ruang tamu), 1 kamar mandi dengan beberapa ekor tikus yang kerap terdengar saling berkejaran di balik plafon, dan sebuah mesin pompa air seukuran rantang yang di-install tidak terlalu jauh dari safety tank. Alasan ini yang membuat ibu mengharamkan air tersebut untuk dipergunakan dalam kepentingan rumah tangga termasuk mandi dan cuci. Sebagai kompensasi kami harus membeli air bersih yang dijajakan menggunakan gerobak seharga Rp. 5.000 (lima ribu rupiah perkaleng (-/+ 20 liter).
Sebelum kenaikan BBM tahun lalu harga air masih sekitar Rp. 4.000 (empat ribu rupiah) perkaleng. Konon air tersebut memang didatangkan dari salahsatu sumber mata air di wilayah Bogor. Pada awalnya saya coba memprotes lunjakan harga tersebut pada agen air di wilayah kami, namun respon yang saya terima terkesan sangat bersahaja meskipun agak menyedihkan dan sedikit mengecewakan : “Kalau rasa mahal, tidak usah beli di sini.. ke Bogor saja angkut sendiri”. Mendengar itu aku segera beranjak sambil menerawang kemana lagi harus mencari penjual air yang lebih ramah dan bersahabat.
Kaitkata: JK, kredit tanpa agunan, kudatuli
10 Juli 2009 pukul 20:18 |
mengharukan
nice gan.
4 Agustus 2009 pukul 20:18 |
@wahyu,
Terimakasih
salam
14 Februari 2011 pukul 20:18 |
so nice…
Cerita nya bagus.
but ending nya itu lho keq ada yg kurang gitu..
15 Februari 2011 pukul 20:18 |
Mas Ir
Terimakasih atas bimbingannya, Insya Allah saya akan berusaha menulis yang lebih baik lagi. Aamiin.
Secara situasional dan emosional cerita itu terinspirasi dari rasa kekecewaan ketika unggulan saya kalah dalam pemilu lalu, makanya tidak sempat terlintas untuk menutup cerita tsb dengan happy end. Suasananya memang gitu mas
Salam kenal dan sekaligus salam hormat dari saya mas…