Secara tidak sengaja langkahku menubruk sesosok wanita cantik. Pikirku sekilas dia orang baru. “maaf mbak…. pintaku. Dia memandangku tersenyum dengan tatapan penuh maklum, meski tanpa kata-kata, namun sarat dengan makna. Namun ikamat semakin memacu langkahku untuk mengikuti jama’ah di masjid. Sejenak aku harus menepis jauh-jauh hasil quick count yang disiarkan di tv beberapa jam lalu, juga melupakan JK, dan mengabaikan gadis yang sudut bibirnya masih mengulum senyum ke arahku, dan bahkan mengabaikan ibuku yang sedang di rumah sendirian.
Laa tahzan.. Innallaha ma’ana Janganlah bersedih hati, sesungguhnya Allah beserta kita-oOo-
Halaman-halaman: 1 2 3 4 5 6 7
Kaitkata: JK, kredit tanpa agunan, kudatuli
10 Juli 2009 pada 20:18 |
mengharukan
nice gan.
4 Agustus 2009 pada 20:18 |
@wahyu,
Terimakasih
salam
14 Februari 2011 pada 20:18 |
so nice…
Cerita nya bagus.
but ending nya itu lho keq ada yg kurang gitu..
15 Februari 2011 pada 20:18 |
Mas Ir
Terimakasih atas bimbingannya, Insya Allah saya akan berusaha menulis yang lebih baik lagi. Aamiin.
Secara situasional dan emosional cerita itu terinspirasi dari rasa kekecewaan ketika unggulan saya kalah dalam pemilu lalu, makanya tidak sempat terlintas untuk menutup cerita tsb dengan happy end. Suasananya memang gitu mas
Salam kenal dan sekaligus salam hormat dari saya mas…