Kesalehan Sosial Menyikapi Etnis Yahudi

nazi

 

Tulisan ini bukan sebuah apologi untuk mendukung pembenaran terhadap suatu kaum yang teraniaya akibat sikap represif yang berlebihan dari suatu mazhab politik maupun keagamaan, yang memaksa kaum ini melakukan evakuasi dan exodus, dan bahkan harus menerima hukuman pembantaian (genocide) dari mereka yang merasa paling benar sendiri (dictator minority).

Kekeliruan umat yang merambah dari abad ke abad telah melindas serentetan nilai-nilai kemanusiaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dan terus menggelindingkan isu-isu penyesatan sosial yang merugikan pihak tertentu (bandwagon fallacy). Sungguh suatu fenomena kemanusiaan yang seakan sulit dihentikan tanpa keajaiban dari Tuhan YME.

***

Etnis Yahudi

Zaman pra islam bangsa yahudi terkenal sebagai masyarakat tauhid yang anti paganisme atau anti penyembahan berhala, identik dengan prinsip tauhid yang dianut umat islam di seluruh penjuru dunia.

Sejak dahulu kala orang-orang Yahudi dikenal sebagai etnis yang memiliki etos kerja yang tangguh di berbagai bidang. Secara enterpreneurialship mereka menjadi icon dari suatu kesuksesan dan keberhasilan di berbagai bidang dan cabang keahlian. Wajar saja jika sejarah peradaban manusia selalu mengusung kejayaan mereka di setiap babak generasi kehidupan yang terus bergulir.

Kemesraan sosial, politik dan keagamaan

Sejarah menuturkan (Sirah nabawiyah) bahwa pada 2 Agustus 570 M, (12 Rabbiul-awwal tahun Gajah), telah dilahirkan seorang anak lelaki yang oleh kakeknya diberi nama “Muhammad”. Beliau ini lah yang kelak mendapat wahyu kenabian pada sebuah gua kecil di perut gunung cahaya (jabal Nur).

Pada awal-awal menjalankan tugas kenabian, beliau sangat dimusuhi oleh orang-orang Quraish. Berbagai bentuk represi, pengusiran, ancaman dan terror yang dilakukan orang-orang (maaf) Arab terhadap utusan Allah di awal kelahiran Islam, pada puncaknya ditandai dengan rencana keji untuk membantai sang Utusan. Tetapi karena perlindungan Allah, beliau terhindar dari makar dengan cara menyelinap di gua Saur bersama sahabat beliau Abubakkar bin Affan selama 3 hari.

Lalu beliau melakukan evakuasi menuju Yatsrib (sekarang bernama Madinah). Di kota tersebut Rasulullah SAW disambut meriah oleh segenab warga Yatsrib terutama etnis Yahudi. Mereka berharap agar kehadiran Nabi Muhammad di kota itu akan menjadi matahari di tengah kegelapan peradaban umat, menuju perdamaian abadi sepanjang masa.

Pada umumnya kaum Yahudi dan Arab di masa itu, telah jenuh menghadapi berbagai keos (chaos) yang dipicu oleh serangkaian ketimpangan sosial (dekadensi moral) yang terus merajalela, dan juga  penyakit sosial yang berhubungan dengan supremasi kesukuan (klan) yang rentan menyulut berkobarnya perang antar suku. Motif inilah yang menjadi salahsatu elemen penetas embrio Piagam Madani yang dideklarasikan oleh Rasulullah saw.

Klausa-klausa yang tertuang dalam kontrak sosial politik tersebut diwarnai dengan penekanan “semangat kebersamaan” untuk saling menghormati hak-hak dan harkat serta kehormatan kemanusiaan yang inheren pada kesucian agama dan aliran kepercayaan yang dianut tiap-tiap umat. Dalam hal pertahanan dan keamanan, kaum Yahudi dan sub etnis Arab Yatsrib menjunjung tanggung jawab yang sama secara proporsional dan demokratis, melalui musyawarah untuk melahirkan permufakatan yang arif dan adil.

Reaksi Al-Qur’an terhadap Yahudi

Dalam beberapa ayat al-Qur’an mengingatkan kepada orang-orang Yahudi supaya  kembali kepada esensi ajaran mereka yang suci dan terbebas dari campur-tangan para pendongeng primitif, serta pengaruh budaya “masyarakat syaitan” yang pernah hidup di zaman Sulaiman as. Hal “peringatan” tersebut dapat dimaklumi atas alasan bahwa; dalam rentang waktu yang cukup panjang, ajaran tersebut berjalan tanpa didampingi acuan hukum secara tertulis dalam bentuk kitab dan sejenisnya (lex non scripta).

Mengenai kecaman-kecaman yang dilontarkan Al-Qur’an terhadap orang-orang Yahudi, sejatinya bukanlah diarahkan terhadap etnisitas Yahudi secara menyeluruh, melainkan lebih ditekankan pada prinsip ideologis maupun aliran (isme) yang dianggap telah menyimpang dari prinsip-prinsip nurani kemanusiaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya reaksi keras dari kalangan orang-orang Yahudi sendiri terutama para pemuka agama mereka (rabi) yang mengecam keras terhadap gerakan zionisme. Sikap ini membuktikan bahwa tidak semua “etnis Yahudi” memiliki “sifat-yahudi” yang hypocrite.

Di dalam sebuah ayat Al Qur’an (13:36), mengisahkan tentang kearifan seorang Yahudi (Abdullah bin Salam), yang secara tersirat ayat tersebut menuturkan betapa besar penghargaan Allah atas keimanan seseorang tanpa membedakan suku maupun kebangsaan. Dan bukti selanjutnya adalah, suatu anugerah kehormatan yang disematkan Rasulullah SAW. terhadap seorang wanita Yahudi (Safiyah*) yang dipersunting Beliau sebagai isteri, yang secara implisit telah mengangkat harkat wanita tersebut menjadi sejajar dengan ummul-mukminin** lainnya.

Karakter dan temperamen Al-Qur’an

Apabila dalam beberapa surah ditemukan ayat-ayat yang terkesan berkarakter keras dan temperamental, sejatinya hanya dipakai dalam suasana yang sangat kondisional dan situasional, yang disesuaikan dengan kaidah ushul fikih. Diantara ketentuan tersebut menegaskan bahwa, dalam suatu keadaan yang dianggap darurat, pemerintah harus bertindak tegas demi melindungi jiwa rakyat, serta memilih resiko yang terkecil untuk menjaga keselamatan orang banyak.

Pemberlakuan ayat-ayat “siaga” (darurat) dalam suatu tempat atau wilayah (khulafah) hanya boleh diputuskan oleh seorang Ulil Amri (pemimpin negara yang resmi dipilih rakyat). Diharapkan pemimpin inilah yang mampu bertindak secara arif untuk mengklasifikasi ayat-ayat “status siaga“ dalam konteks hukum yang berlaku. Dalam hal ini, ayat-ayat dalam status siaga “satu”, ataupun “dua” dan seterusnya, sangatlah tidak bijak diberlakukan dalam sebuah negara yang berada dalam kondisi aman dan damai.

Suatu legitimasi dan otoritas yang diamanahkan Al-Qur’an terhadap umat, hendaknya dipahami dan dihayati secara kontekstual (baca : bukan tekstual), dan juga seorang umat harus mampu membedakan antara kewajiban sosial (fardhu kifayah) dan tugas individu (fardhu ‘ain). Hal ini penting untuk menghindari blunder sosial maupun keangkuhan golongan karena merasa besar (tyrani of the majority), guna mencegah pengorbanan sia-sia bagi seorang martir yang tidak memiliki legitimasi sebagai pahlawan spiritual (syuhada).

Sumbangan Yahudi dalam proses pengembangan Ilmu Pengetahuan

Salahsatu cendekiawan besar islam seperti Ibnu Sina, pada awal mengembangkan ilmu pengetahuan umum menggunakan referensi dari ilmuwan Yahudi Jabir bin Bakhtisyu’ dan Hunain bin Musawayih. Yang menarik dari paragraph ini adalah “keterbukaan” dan sportifitas umat islam ketika itu, mampu mendobrak dinding keangkuhan diri mereka secara jujur dan respektif terhadap keunggulan pengetahuan bangsa lain tanpa diembel-embeli dengan tuduhan kafir dan lain sebagainya.

Problema umat

Doa umat saat ini cenderung hanya dijadikan alat untuk mengeksploitir kekuasaan Allah melalui ritual-ritual impuls obsesif dari segolongan orang-orang yang merasa dirinya paling shalih. Dalam kasus ini mereka memperlakukan Allah hanya sebagai “Mesin Yang Maha Kuasa” untuk memenuhi segala ambisi dan kepuasan duniawi semata.

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(Al Ma’idah : 15,16).

 

__________

Catatan kaki :

(*) Safiyah binti Huyai (Ummul Mukminin ke sembilan). Adalah satu-satunya istri Nabi dari etnis Yahudi. Safiyah masih keturunan Nabi Harun dan ibunya Barrah binti Samual. Pada saat dinikahi oleh Nabi usianya 17 tahun dan sudah dua kali menikah. Salah satu mantan suami Safiyah adalah Kinanah bin Rabi bin Abil Haqiq, pemimpin benteng Qumus, benteng terkuat di Khaibar yang dijadikan markas induk kaum Yahudi.

Dengan menikahi Safiyah, Rasulullah berharap agar kebencian kaum Yahudi terhadap umat Islam dapat diredam. Sekaligus sebagai penjelasan bahwa yang dimusuhi al-Qur’an bukanlah etnis Yahudi yang memiliki sifat-sifat “keyahudian” yang sarat dengan kemunafikan dan tipu muslihat. Safiyah wafat pada tahun 50H pada masa Mu’awiyah dan dimakamkan di Baqi.

(**) Wanita yang berstatus ummul mukminin pada prinsipnya adalah wanita-wanita yang tidak menikah lagi setelah pernikahannya dengan Rasulullah. Ummat islam yang memberi penghormatan khusus kepada isteri-isteri Rasul-Nya merupakan ibadah yang memiliki nilai tersendiri. Salahsatu bentuk penghormatan tersebut dengan tidak menikahi mereka disaat menjadi janda sepeninggal Rasulullah SAW.

-oOo-

8 Tanggapan ke “Kesalehan Sosial Menyikapi Etnis Yahudi”

  1. Siti Fatimah Ahmad Berkata:

    Assalaamu’alaikum…

    Manusia dicipta dari satu, kemudian dua. Penciptaan kedua-duanya (Adam a.s dan Hawa ) merupakan sejarah awal untuk kelahiran manusia seterusnya. Dari satu generasi ke satu generasi, manusia dilahirkan atas dasar kasih sayang yang dijelmakan ke dalam diri manusia sebagai sunnatullah yang menjadi fitrah naluri kemanusiaannya.

    Namun, sejarah kemanusiaan itu mulai lebur dek iri hati, dengki mendengki yang dimulai dengan kisah Habil dan Qabil. justeru itu…keamanan mulai tergugat kerana ada yang meninggi diri dan tidak sedar diri. Ironisnya, semakin zaman berkembang semakin tragis lagi cara kematian manusia. Peluru tak kenal mata, keris tak kenal pencak dan pisau tak kenal silau. Alangkah hina dinanya kemanusiaan manusia itu kerana tidak kenal ikan dengan manusia, lembu betina dengan wanita, anak itik dengan anak manusia. Semuanya di baham habis dek menyangka mereka adalah manusia perkasa.

    Oleh itu, marilah kita hargai nilai kemanusiaan yang ada pada diri kita. jadikan sejarah silam dan terkini yang menjadikan manusia sebagai haiwan tidak akan berulang lagi. Dari Allah kita datang, kepada Allah jua kita akan kembali.

    Salam mesra selalu.

  2. Abdul Malik Azir Berkata:

    Bunda yang kekasih,

    Betapa terharunya membaca respon bunda dalam tulisan ini. Maaf bunda, saya harus katakan bahwa saya sedang menitikkan air mata saat menulis ini. Apa yang bunda saksikan pada gambar di atas adalah penggalan kecil dari serentetan peristiwa holocaust yang pernah menimpa saudara kemanusiaan kita dari kalangan etnis yahudi. Mereka banyak yang jadi korban mazhab politik yang telah menodai nilai-nilai kemanusiaan.

    Terimakasih bunda, terimakasih atas sharing yang menyentuh nurani kemanusiaan saya.

    Semoga Allah melindungi bunda sekeluarga
    wassalam,
    ananda.

  3. pakcikli00 Berkata:

    Asalamualaikum

    Anakanda Malik

    Sejarah kemaknusian itu lebur bermuala daripada peristiwa anak Adam berebut pasasngannya yang telah ditentukan daripada pasangan anak anak Adam yang dilahirkan oleh bonda Hawa, ada metosnya disebalik peristiwa ini, bermula daripada peristiwa inilah berlakunya pembuhuhan dan tipudaya serta bermula mengalirnya syitan kedalam tubuh badan anak Adam. Sesungguhnya setiap kejadian ini adalah untuk membolehkan kita berfikir supaya mengenali afaal Allah yang maha kuasa.
    Jika kamu terharu dengan komentar bonda bagaimana pula dengan komentar Ayahanda. Tapi aku tahuk kamu lebih menyayang bonda daripada aku.

    terima kaseh dan salam hormat.

  4. Abdul Malik Azir Berkata:

    wa ‘alaikumussalam

    PakCik,

    Saya memang sayang kepada bunda Fatimah, dikarenakan perhatian dan kasih sayang beliau selama ini terasa begitu lembut membelai. Dijari-jarinya seakan terlewati oleh kemesraan surgawi yang mengeluskan kedamaian ke dalam hati dan sanubari. That’s why I choose her blog in this cyber world.

    Terimakasih atas komentarnya.

    wassalam.

  5. HE. Benyamine Berkata:

    banyak hal yang dikaburkan oleh kepentingan ideologis, begitu juga dengan pelajaran dari sejarah yang sebenarnya ada dalam kitab yang menjadi pegangan umat Islam … Allah memang tidak menciptakan manusia menjadi satu … yang memberikan kita untuk saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

    postingan yang membuka cakrawala berpikir … mengajak pada kelapangan.

    Salam hangat di musim kemarau yang terik

    • Abdul Malik Azir Berkata:

      Alhamdulillah,

      gembira sekali hari ini kedatangan pejabat penting di negeri ini. Maaf, kalau saya keliru, saya hanya tertarik dengan beberapa komentar-komentar anda di internet yang terkesan sangat diplomatis dan kadang sangat officialistic.

      Menjelang ramadhan seharusnya kemarau mulai terasa, sebagaimana kita memahami bahwa kata ramadhan mempunyai konotasi “kering kerontang”.

      Terimakasih atas kunjungan yang berharga ini pak Ben. Semoga ini menjadi awal persahabatan dan persaudaraan kita.

      Salam hormat untuk anda sekeluarga,
      wassalam.

  6. 2010 in review « astaka loka Berkata:

    [...] Kesalehan Sosial Menyikapi Etnis Yahudi August 2009 6 comments [...]

  7. 2010 in review « astaka loka Berkata:

    [...] Kesalehan Sosial Menyikapi Etnis Yahudi August 2009 [...]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.